Rabu, 07 Mei 2025

Pelan Setelah Perpisahan


Beberapa hari lalu, sahabatku berangkat ke Turki.

Dia bukan cuma sahabat biasa.
Dia teman cerita, teman doa, teman tumbuh.
Teman yang tahu versi-versi kecilku yang gak pernah aku tunjukkan ke banyak orang.

Waktu dia bilang akan pergi, bukan buat liburan, tapi untuk bekerja dan membangun hidup baru di sana, aku sempat terdiam.

Ada rasa haru. Ada bangga.
Dan juga rasa hangat yang aneh, seperti melepaskan seseorang yang kita sayangi ke jalan yang selama ini dia doakan.

Aku gak sedih. Justru aku senang.
Saking senangnya, aku bahkan membuatkan dia buku kecil.
Kumpulan tulisan sederhana, sebagai teman kalau suatu hari dia merasa sendiri di negeri orang. Aku ingin dia tahu, bahwa dia gak pernah benar-benar sendirian.

Tapi setelah dia pergi, aku justru merasa kosong.

Bukan karena kehilangan dia secara fisik, kami masih saling berkabar.
Tapi kosong yang aneh, seperti semangat di dalam diriku ikut berkemas.

Hari-hari setelahnya, aku mulai kehilangan minat berkarya.
Ide-ide yang biasanya datang tanpa diminta, sekarang mendadak hilang arah.
Kegairahan yang biasanya hadir saat menulis atau membuat sesuatu, tiba-tiba seperti padam.

Aku pastikan ini bukan iri. Bukan juga gak rela.
Tapi aku gak bisa bohong: ada rasa minder yang diam-diam tumbuh di sela kekosongan itu.

Bukan karena dia berhasil, tapi karena aku jadi bertanya ke diri sendiri:

“Aku udah sampai mana?”
“Apa aku juga bisa sejauh itu?”
“Apa yang kulakukan sekarang cukup layak diperjuangkan?”

Dan di situlah aku sadar:
Kadang, keberhasilan orang lain gak bikin kita iri. Tapi bikin kita berkaca.
Dan bayangan dari cermin itu kadang menyakitkan.

Aku mulai melihat pencapaian orang sebagai tolak ukur yang menyudutkan.
Padahal sebelumnya, aku gak pernah menganggap diriku sedang berlomba.
Tapi entah kenapa, sejak kabar itu datang, semangatku seperti kehilangan tujuannya.

Aku mencoba bertahan.
Tapi makin dilawan, rasa kosongnya makin terasa.

Dan hari ini, aku akhirnya berhenti berusaha “harus baik-baik aja.”

Aku duduk, dan mulai bicara baik-baik ke diriku sendiri.

“Kalau kamu butuh berhenti sebentar, gak apa-apa.
Kalau kamu minder, itu bukan dosa.
Kalau kamu merasa kehilangan arah, itu wajar.
Dan kalau kamu senang untuk orang lain tapi sekaligus sedih untuk dirimu sendiri… itu juga manusiawi.”

Ternyata, bukan keberhasilan orang lain yang bikin sesak.
Tapi ketidaksiapan kita menghadapi rasa tertinggal meskipun tak ada yang sedang berlomba.

Hari ini aku belajar sesuatu:
Kamu bisa ikhlas pada kepergian seseorang.
Kamu bisa bahagia atas pencapaiannya.
Dan tetap merasa kehilangan versi diri yang dulu semangat berjuang.

Dan itu bukan berarti kamu gak tulus.
Itu berarti: kamu juga sedang butuh dipeluk.

Bukan oleh orang lain.
Tapi oleh dirimu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar