Rabu, 21 Mei 2025

Dari Hal Kecil, Tuhan Seolah Bilang, "Tenang Aja"

Belakangan ini aku lagi khawatir banget. Bulan hampir habis, tapi target belum juga tercapai. Malah jauh dari kata tercapai.

Rasanya tuh kayak dikejar-kejar, tapi gak tahu apa yang harus dikejar duluan. Karena udah terlalu banyak ketinggalan, sementara tanggal deadline terus berjalan mendekat.

Aku berusaha, tapi tetap aja kepikiran: “Kalau gak sampai gimana? Gawat banget.”

Tapi di tengah rasa itu, ada hal-hal kecil yang bikin aku mikir. Hal-hal kecil yang sederhana, yang ditunjukkanNYA melalui makanan.

Beberapa kali aku cuma kepikiran, pengin makan sesuatu. Gak bilang siapa-siapa, cuma lewat aja di kepala, tapi entah kenapa, seringnya keinginan itu tiba-tiba dikabulkan.

Ada aja yang bawain. Ada yang traktir. Ada yang nyodorin tanpa aku minta.

Awalnya aku anggap kebetulan. Tapi setelah kesekian kali, aku mulai mikir:
“Apa ini cara Tuhan menyapa?”

Seolah Tuhan, kayak sedang bilang pelan:

“Kamu gak usah terlalu khawatir dengan yang belum kejadian. AKU tahu kamu sedang berusaha. Lihat, ini hal kecil aja AKU kabulkan. Jadi tenang, percaya saja. Lakukan bagianmu, sisanya biar AKU yang urus.”

Dan aku jadi sadar, mungkin memang harusnya begitu.

Ketika kita percaya, kita jadi lebih tenang. Saat tenang, kita bisa berpikir lebih jernih. Kalau pikiran jernih, kita bisa menangkap peluang lebih baik dengan maksimal. Dan saat kita bekerja maksimal, hasilnya pun akan mengikuti.

Jadi sebenarnya, percaya itu bukan sekadar rasa di hati, tapi titik awal dari segalanya, dari cara kita melangkah, berpikir, dan menghadapi apa pun di depan.

Dan lewat hal-hal kecil itu, Tuhan sedang menunjukkan:

“AKU dengar. AKU lihat. AKU hadir.”
Bahkan untuk doa yang gak pernah diucap, cuma sempat mampir di pikiran.

Semoga tenang ini bisa aku bawa lebih lama. Dan semoga dari tenang, tumbuh langkah-langkah baru yang lebih yakin dan lebih kuat.

Senin, 12 Mei 2025

Semangat Itu Menular!

Kemarin aku ikut gathering properti.
Sederhana sih acaranya, tapi efeknya ke aku luar biasa.

Aku ketemu banyak orang hebat.
Yang udah lama terjun di dunia marketing properti, yang jago ngomong, yang pantang nyerah, yang cara mikirnya tuh "wah banget."

Aku banyak belajar.
Tapi lebih dari itu, aku merasa seperti sedang nge-charge ulang energi yang udah mulai sekarat beberapa hari terakhir.

Beberapa hari sebelumnya, aku males banget bikin konten.
Rasanya tuh kayak: "Udah deh, gak usah dipaksa. Gak bisa mikir."
Tapi pulang dari gathering itu, aku langsung duduk, buka HP, dan tarraaa..  jadi dua konten dalam waktu singkat.

Gak ada yang maksa. Gak ada tekanan. Tapi semangatnya tuh nular.

Dan aku jadi sadar,
kadang yang kita butuh bukan motivasi dari dalam,
tapi lingkungan yang bisa nyalain lagi nyala yang udah hampir padam.

Aku bersyukur banget bisa ketemu orang-orang yang gak pelit ilmu.
Yang ceritanya gak bikin minder, tapi justru bikin aku bilang ke diri sendiri:
"Kamu juga bisa kok, asal terus belajar dan jalan."

Semoga yang nular gak cuma semangat dan ide.
Tapi juga mindset yang sehat, lingkungan yang mendukung,
dan tentu aja rezeki yang pelan-pelan ikut datang.

Bismillah, semoga semangat ini gak cuma nyala sesaat.
Tapi bisa terus hidup, walau pelan-pelan.

Sepiring Makanan yang Menyadarkan

Beberapa hari terakhir, aku sempat kepikiran pengin beberapa makanan.
Gak ngoyo, gak minta-minta, cuma kepikiran aja.

Kayak, “nanti beli ah kalau ada rezeki.”

Lucunya, keinginan-keinginan kecil itu malah dikabulkan duluan.

Ada yang tiba-tiba dibawain.
Ada yang ditraktir tanpa aku sangka.
Malam-malam kepikiran satu makanan, eh.. besoknya ada yang kasih.
Lusanya, aku ditawari makanan lain yang juga lagi aku suka-sukanya.

Aku jadi senyum sendiri.
Ternyata, Allah bisa mengabulkan sesuatu yang bahkan cuma sekilas mampir di pikiran.
Padahal aku sendiri gak berdoa panjang-panjang soal itu.

Dan dari situ, aku belajar satu hal yang lembut:

Ternyata Allah gak nunggu doa yang ribet untuk menjawab hatimu.
Kadang, bisikan kecil pun sudah cukup untuk dikabulkan.


Mungkin karena itu juga, aku mulai berharap:

Semoga kemudahan-kemudahan kecil ini bisa ikut menular ke hal-hal besar.
Ke doa-doa yang udah lama aku simpan.
Ke langkah-langkah yang rasanya berat banget buat dimulai.

Aku tahu, gak semua hal akan mudah.
Ada hari-hari yang penginnya rebahan aja, bukan lari.
Ada waktu di mana semangat turun, bahkan buat sekadar bangun pagi.

Tapi hari ini aku merasa:
Kalau sepiring makanan aja bisa Allah kirim tepat waktu,
kenapa aku harus ragu kalau Dia juga bisa kirim jalan untuk hidupku?

Bismillah.
Masih berjuang, masih belajar sabar,
dan semoga bisa lebih Istiqomah.. Aamiin.

Jumat, 09 Mei 2025

Belum Sepenuhnya

Hari ini, aku masih berusaha semangat.
Setidaknya, lebih semangat dari kemarin.
Dan buatku, itu udah cukup baik.

Pagi tadi, aku lumayan senang karena berhasil ngerjain sekitar 75% dari target yang aku tulis semalam.
Gak sempurna sih, tapi ada rasa lega.
Ada “yes, akhirnya gerak juga” yang mampir sebentar di hati.

Tapi menjelang siang, entah kenapa semangat itu kayak hilang pelan-pelan.
Padahal gak ada kejadian buruk. Gak ada kabar menyedihkan.

Tiba-tiba aja kosong.
Kayak duduk, tapi gak tahu mau ngapain.
Buka handphone, scroll sebentar, lalu tutup lagi.
Pengen kerja, tapi malah ngelamun.
Padahal aku tahu ada beberapa tugas yang masih nunggu untuk diselesaikan.

Aku sadar.
Bukan gak punya kerjaan.
Tapi rasanya kayak mentalku nge-freeze.
Kayak stuck.
Antara pengin gerak, tapi gak tahu arahnya ke mana.

Sampai sore, aku masih bingung sendiri.
Masih nyoba mencerna rasa yang muncul tapi gak bisa langsung dinamai.

Dan di sela kebingungan itu, temanku yang sedang di Turki mengirim kabar.
Dia mulai bekerja besok.
Dia bercerita banyak, tentang tempat barunya, perasaan haru saat menginjak negeri orang, sampai video dan foto-foto yang dikirim dari sana.
Aku bahagia banget mendengarnya.
Rasanya menyenangkan lihat dia tumbuh dan berani.
Aku ikut mendoakan yang terbaik untuk langkahnya di sana.

Tapi...
di saat yang sama, aku merasa makin tertinggal.

Bukan karena dia lebih dulu sampai.
Tapi karena aku masih di sini, duduk dengan daftar tugas yang belum selesai dan semangat yang naik-turun tanpa aba-aba.

Kadang kita gak butuh orang lain menjatuhkan untuk merasa kecil.
Cukup dengan melihat seseorang melangkah lebih jauh, kita mulai mempertanyakan langkah kita sendiri.

“Aku udah ngapain aja ya?”
“Kenapa aku gini-gini aja?”
“Apa aku juga bisa kayak dia?”

Rasa itu datangnya halus. Gak langsung bikin nangis, tapi cukup untuk membuat kita ragu pada diri sendiri.

Tapi hari ini aku belajar sesuatu.

Rasa tertinggal bukan selalu tanda iri.
Kadang itu cuma alarm kecil, bahwa aku juga pengin tumbuh.
Bahwa ada bagian dari diriku yang sebenernya gak ingin diam.
Aku pengin gerak, pengin punya tujuan yang jelas, pengin merasa hidup.

Dan itu sah.

Hari ini aku belum selesai.
Masih bingung. Masih lelah.
Tapi aku juga tahu: aku masih mau mencoba.

Dan semoga itu cukup untuk sekarang.

Rabu, 07 Mei 2025

Pelan Setelah Perpisahan


Beberapa hari lalu, sahabatku berangkat ke Turki.

Dia bukan cuma sahabat biasa.
Dia teman cerita, teman doa, teman tumbuh.
Teman yang tahu versi-versi kecilku yang gak pernah aku tunjukkan ke banyak orang.

Waktu dia bilang akan pergi, bukan buat liburan, tapi untuk bekerja dan membangun hidup baru di sana, aku sempat terdiam.

Ada rasa haru. Ada bangga.
Dan juga rasa hangat yang aneh, seperti melepaskan seseorang yang kita sayangi ke jalan yang selama ini dia doakan.

Aku gak sedih. Justru aku senang.
Saking senangnya, aku bahkan membuatkan dia buku kecil.
Kumpulan tulisan sederhana, sebagai teman kalau suatu hari dia merasa sendiri di negeri orang. Aku ingin dia tahu, bahwa dia gak pernah benar-benar sendirian.

Tapi setelah dia pergi, aku justru merasa kosong.

Bukan karena kehilangan dia secara fisik, kami masih saling berkabar.
Tapi kosong yang aneh, seperti semangat di dalam diriku ikut berkemas.

Hari-hari setelahnya, aku mulai kehilangan minat berkarya.
Ide-ide yang biasanya datang tanpa diminta, sekarang mendadak hilang arah.
Kegairahan yang biasanya hadir saat menulis atau membuat sesuatu, tiba-tiba seperti padam.

Aku pastikan ini bukan iri. Bukan juga gak rela.
Tapi aku gak bisa bohong: ada rasa minder yang diam-diam tumbuh di sela kekosongan itu.

Bukan karena dia berhasil, tapi karena aku jadi bertanya ke diri sendiri:

“Aku udah sampai mana?”
“Apa aku juga bisa sejauh itu?”
“Apa yang kulakukan sekarang cukup layak diperjuangkan?”

Dan di situlah aku sadar:
Kadang, keberhasilan orang lain gak bikin kita iri. Tapi bikin kita berkaca.
Dan bayangan dari cermin itu kadang menyakitkan.

Aku mulai melihat pencapaian orang sebagai tolak ukur yang menyudutkan.
Padahal sebelumnya, aku gak pernah menganggap diriku sedang berlomba.
Tapi entah kenapa, sejak kabar itu datang, semangatku seperti kehilangan tujuannya.

Aku mencoba bertahan.
Tapi makin dilawan, rasa kosongnya makin terasa.

Dan hari ini, aku akhirnya berhenti berusaha “harus baik-baik aja.”

Aku duduk, dan mulai bicara baik-baik ke diriku sendiri.

“Kalau kamu butuh berhenti sebentar, gak apa-apa.
Kalau kamu minder, itu bukan dosa.
Kalau kamu merasa kehilangan arah, itu wajar.
Dan kalau kamu senang untuk orang lain tapi sekaligus sedih untuk dirimu sendiri… itu juga manusiawi.”

Ternyata, bukan keberhasilan orang lain yang bikin sesak.
Tapi ketidaksiapan kita menghadapi rasa tertinggal meskipun tak ada yang sedang berlomba.

Hari ini aku belajar sesuatu:
Kamu bisa ikhlas pada kepergian seseorang.
Kamu bisa bahagia atas pencapaiannya.
Dan tetap merasa kehilangan versi diri yang dulu semangat berjuang.

Dan itu bukan berarti kamu gak tulus.
Itu berarti: kamu juga sedang butuh dipeluk.

Bukan oleh orang lain.
Tapi oleh dirimu sendiri.

Minggu, 16 Februari 2025

Ucapan yang Ter (Lambat) Hebat

Sore ini aku buka email, dan langsung senyum-senyum sendiri.

Isinya dari Aisyah, keponakanku yang sekarang sedang mondok di pesantren.

Beberapa minggu lalu, tepatnya sehari sebelum ulang tahunku, Ummi-nya sempat nanya alamat emailku.

Katanya, Aisyah yang minta.

Aku langsung kasih, tanpa mikir panjang.

Kupikir, paling-paling dia mau nanya pelajaran lagi.

Soalnya kalau ada tugas atau materi yang bikin bingung, dia memang suka kirim email atau WA.

Biasanya minta dijelasin pakai bahasa yang lebih sederhana, atau dibikinin tutorial versi “mudah dicerna”, versi om baik hatinya ini.


Hari berganti, minggu berlalu.

Aku bahkan udah lupa soal permintaan email itu.

Sampai akhirnya hari ini aku buka inbox, dan nemu satu email darinya.

Bukan soal tugas.

Bukan nanya pelajaran.


Tapi ucapan ulang tahun.

Yang datangnya telat, tapi rasanya pas banget.

Hangat, jujur, dan bikin aku diem sebentar.

Terharu juga ternyata, walau cuma sepenggal kalimat yang diketik pelan-pelan dari jauh.


Meski ulang tahunku udah lewat beberapa minggu,

tapi email itu nyampe pas waktunya:

waktu hatiku lagi butuh sesuatu yang lembut.



Saat aku membaca surat ini rasanya campur aduk sih.


Terharu, masih smp tapi sudah bisa menulis surat seperti ini.


Aku baca halaman perhalaman dan tiba-tiba saja ingin mengabadikan tulisan ini, rasanya sayang saja perasaan terharu yang sedang aku alami ini tidak di abadikan dalam sebuah momen tulisan dan gambar.

Aku masih bingung menuliskan apa di postingan instagram, jadi sepertinya lebih nyaman menuliskannya di blog, karena juga tidak banyak yang membaca. Ini lebih seperti aku menulis untuk menjadi kenanganku sendiri nantinya.




Aku berbahagia, meski saat ini aku belum bisa membuat bahagia banyak orang, tapi setidaknya aku akan berusaha lebih keras lagi agar, orang-orang terdekatku, agar papa, kakak-kakak, para keponakan dan sahabat yang selama ini tulus membersamaiku, meski kondisiku tidak bisa dibilang selalu baik saja, tapi mereka tetap mau menerimaku apa adanya. Terima kasih untuk semuanya yang telah Engkau Berikan Ya Rabb.. Semoga aku tidak akan pernah mengecewakan harapan orang-orang padaku. dan bisa memberi mereka kebahagiaan sebanyak yang aku mampu.. Aamiin










Minggu, 19 Mei 2024

Rahasia Ampuh Menemukan Inspirasi dengan Mudah

Dalam memulai sebuah tulisan, terkadang kita mengalami kebingungan bahkan sebelum memulainya.

Lalu timbul beberapa pertanyaan yang membuat kita jadi makin berat untuk mulai menulis.

"wah, apa yang mau ditulis?"

Tiba-tiba ide hilang dari kepala, dan jadi bingung apa yang mau ditulis. Padahal sebelumnya, ide memang belum digali (aku menggunakan kata digali, sesuai dengan perkataan dari As Laksana dalam bukunya yang berjudul creative writing).

Ide yang tidak digali, tentu saja akan susah ditemukan, kecuali ide itu kebetulan memang sudah ada di permukaan tanah (jika anda sedang beruntung). Namun ide kan tak selalu "cling" hadir begitu saja di permukaan.

Nah saat kita merasa ide sedang  susah ditemukan, maka jawabannya sudah pasti, idemu sebenarnya masih tertimbun. 

Saat merasa ide sedang buntu, saat perasaan menulis itu ada, namun tidak tahu apa yang harus dituliskan, atau saat kita memang sedang bingung bagaimana harus mencari inspirasi, harus kemana?

Nah kali ini aku akan coba memberikan beberapa tips dari pengalamanku sendiri, serta dari beberapa buku yang pernah aku baca.

Baiklah, mari kita mulai dari mencari sebab masalahnya apa? masalahnya adalah kenapa teman teman mempermasalahkan ide menulis, jadi menyelesaikannya cukup tidak usah kita permasalahkan dan bahas topik yang lain. Selesai. hehe.

Nah, bagaimana? Apakah asumsi teman-teman sudah patah? Wah berarti aku berhasil mempraktekkan materi dari penulisan stand up comedi. hahaha. maaf ya.


Ok kita serius! Apa sih tipsnya? berikut adalah tips mudah yang bisa kamu coba saat kebingungan mencari ide:


Saat ide terasa kosong, mungkin kamu bisa coba tenangkan diri, tarik nafas perlahan, rasakan tarikan dan hembusan nafas secara perlahan selama beberapa kali, kemudian perhatikan sekelilingmu. lihat apa yang bisa kamu ambil dari kejadian yang ada saat ini,

Apakah dari obrolan ringan di warkop, dari kejadian lucu dari teman di tempat kerja atau sekolah. atau kamu bisa scrolling di sosial media, lihat apa hal yang menarik perhatianmu. jika itu bisa membuatmu tertarik, mungkin itu juga bisa kamu olah kembali dan jadikan ide tulisanmu.

Kenapa harus menarik nafas dan mencoba merasakannya? karena dengan begitu kamu akan secara penuh, sadar, bahwa kamu hadir saat itu. Seorang psikolog pernah mengatakan bahwa, nafas adalah yang menemanimu di saat ini, dia tidak ada di masa lalu, atau masa depan. Jadi artinya, kamu sedang hadir penuh saat ini, pikiran dan jiwamu tidak kemana-mana. Jadi gunakan itu untuk menajamkan inderamu, kemudian tangkap segala inspirasi yang berlalu-lalang di sekitarmu.

Gimana? masih belum ketemu juga? hmm.. kalau begitu coba ingat-ingat lagi apa kamu ada hal menarik atau lucu dari pengalamanmu selama ini? coba tuliskan itu. Kamu juga bisa coba menuliskan seputar hobimu, apa kendala dalam menjalankan hobimu itu, alasan kenapa kamu begitu menyukai hobi itu dibanding melakukan aktivitas lain. 

Nah, ternyata mudah bukan untuk menemukan Inspirasi menulis? kita cuma harus hadir penuh, dan kemudian aktif bersiap, atau langsung melakukan saja, dan bukan hanya menunggu. kita harus menggali ide, kita harus mulai menulis dulu, barulah nanti ide akan dapat kita temukan, tuliskan akan dapat kita selesaikan, sebuah karya akan dapat kita lahirkan.

Selamat menulis, selamat menginspirasi.

Tulisan ini tidak disponsori oleh biskuit selamat.